Kupang (Kemenag) — Peserta didik MAN Kota Kupang, Aisah Nuzululyati, berhasil memenangkan Lomba Story Telling Cerita Rakyat Budaya NTT yang diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Jumat (10/10/2025). Pada ajang yang bertujuan melestarikan budaya dan cerita rakyat daerah ini, Aisah menampilkan kisah berjudul Fatu Atoni (Batu Penelan Manusia), yang berasal dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Cerita tersebut mengisahkan legenda setempat yang sarat nilai moral dan kebijaksanaan masyarakat NTT.
Aisah menceritakan bahwa dirinya berlatih selama tiga minggu sebelum perlombaan dimulai. Latihan tersebut meliputi penguasaan intonasi, ekspresi, serta pengubahan teks cerita agar sesuai dengan waktu penceritaan yang telah ditentukan panitia.
“Saya memilih cerita ini karena pernah membacanya di buku cerita rakyat NTT. Selain itu, saya memang suka membaca puisi dan suka pelajaran sejarah karena dari sejarah saya bisa belajar asal-usul sesuatu dan cara bercerita yang menarik,” tutur Aisah.
Penampilan Aisah memukau dengan busana adat khas TTS yang dipadukan dengan aksesoris dari Rote, melambangkan keberagaman budaya NTT yang juga merepresentasikan semangat Kota Kupang sebagai kota multikultural. Selain itu, Aisah mengaku bahwa pengalaman ini menjadi salah satu langkah penting dalam mengembangkan kemampuannya bercerita. Ia ingin terus berlatih dan berimprovisasi agar bisa mengikuti perlombaan lain di masa depan untuk menambah pengalaman.
Kepala MAN Kota Kupang turut memberikan apresiasi atas prestasi yang diraih Aisah.
“Selamat dan sukses untuk ananda Aisah. Asah terus kemampuanmu bernarasi. Kelak bisa meraih prestasi hingga ke tingkat nasional bahkan internasional. Tak ada yang mustahil di dunia ini jika tawadu’, istiqamah, serta tawakal pada Allah didahulukan,” ungkap Umiyati. Prestasi yang diraih Aisah menjadi bukti bahwa siswa MAN Kota Kupang mampu berkompetisi di tingkat provinsi dengan menjunjung tinggi nilai budaya dan literasi daerah. Madrasah berharap keberhasilan ini dapat menjadi motivasi bagi peserta didik yang lain untuk terus berkarya, berprestasi, dan mencintai kebudayaan lokal.





